Senin, 21 Desember 2009

Profil Kota Bandung


Kota Bandung (kotamadya) adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota Bandung secara geografis terletak antara 107 Bujur Timur and 6 55 Lintang Selatan. Wilayah Kota Bandung sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung. Luas wilayah Kota Bandung 167,45 km2 dan terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan.

Lima PTN yakni Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, IAIN dan STIA-LAN. Ditambah sekitar 40 PTS dari berbagai strata, mulai dari program 3 sampai program S3, Bandung merasa sah menyebut dirinya sebagai pusat kegiatan pendidikan tinggi.

Kegiatan perdagangan, hotel dan restoran, menjadi sandaran struktur ekonomi kota. Kegiatan perdagangan yang memberi andil terbesar bagi perputaran ekonomi kota ini ditunjang oleh 47 lokasi pasar tradisional dan 23 pertokoan di 16 kecamatan.
Selain perdagangan, industri pengolahan menjadi andalan kedua yang menghasilkan. Hasil utama kegiatan industri ini adalah tekstil dan pakaian jadi. Selain dipasarkan melalui factory outlet yang marak di seluruh penjuru Kota Bandung, Produk ini menjadi salah astu komoditas ekspor unggulan. Produk lain yang diekspor adalah alat elektronika seperti kotak amplifier, trafo, dan parabola yang dibuat di gang-gang sempit wilayah Kebongedang.

Terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata. Predikat sebagai pusat kegiatan kebudayaan dan pariwisata disandang karena kota ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Objek wisat yang ditawarkan terdiri dari wisata belanja, wisata hiburan, dan wisata budaya.

Untuk sektor transportasi, Kota Bandung memiliki sebuah bandara internasional, yaitu Bandara Husein Sastranegara yang menghubungkan Bandung dengan kota-kota lainnya di Indonesia dan juga Kuala Lumpur di Malaysia. Bandung juga mempunyai dua stasiun kereta api, yaitu Stasiun Bandung yang setiap harinya melayani rute Bandung-Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang untuk kelas Bisnis dan Eksekutif dan Stasiun Kiaracondong untuk Kelas Ekonomi. Prasarana jalan di kota Bandung, antara lain, Jembatan Pasupati yang menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung. Jembatan itu melewati lembah Cikapundung. Panjangnya 2,8 km dan lebarnya 30-60 m. Pada 25 Juni 2005 jembatan ini resmi dibuka. Jembatan ini rencananya akan menjadi land mark kota Bandung yang baru.


Sumber Data:
Jawa Barat Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Jawa Barat
Jl. PHH Mustapa No. 43, Bandung 40124
Telp (022) 7272595, 7201696
Fax (022) 7213572

Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3273

Kamis, 13 Agustus 2009

Braga, Keindahan Arsitektur Bandung



Bandung - Berkunjung ke kota Bandung cobalah dengan nuansa lain. Sesungguhnya Bandung tidak hanya memuaskan nafsu belanja dan kebutuhan kuliner saja, Bandung juga bisa dinikmati dengan memperhatikan arsitektur bangunannya.

Cobalah menyusuri Jalan Braga. Kawasan yang dimulai dari Jalan Asia Afrika (persis di sisi bangunan Gedung Merdeka) sampai dengan rel kereta api menjelang Jalan Wastukencana ini adalah saksi bisu zaman keemasan arsitektur di Indonesia.

Bangunan-bangunan di Braga sampai kini menjadi semacam etalase berbagai gaya arsitektur. Mulai dari klasik-romantik, art deco, Indo-Europeanen, neo klasik, gaya campuran, sampai gaya arsitektur modern. Meski tak sepenuh sesuai dengan aslinya, keindahan arsitektur itu masih bisa kita saksikan di berbagai bangunan di kawasan Braga.

Misalnya Gedung Landmark, bekas toko buku Van Dorp dan gedung bioskop Majestic. Ketiga bangunan itu adalah hasil rancangan arsitek Wolff Schoemaker yang dibangun pada 1922. Arsitektur bangunan-bangunan itu menampilkan perpaduan antara arsitektur Barat dan Timur.

Dulunya, Braga hanyalah sebuah jalan tanah yang berlumpur pada musim hujan dan berdebu pada musim kemarau. Hanya pedati yang ditarik kerbau yang melewati jalan itu untuk mengangkut hasil bumi ke koffie pakhuis. Karena itu jalan tersebut dijuluki Karrenweg atau Pedatiweg.

Tentu saja sulit membayangkan Braga kini dulunya tempat lintasan kerbau menghela pedati. Maklumlah, Braga kini dengan deretan toko-toko yang menjual berbagai keperluan itu adalah salah satu kawasan termahal di kota Bandung.

Namun kalau mau ditelusuri lebih jauh, jejak kerbau menarik pedati itu menjadi gedung yang paling penting di Bandung saat ini. Gedung Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana dulunya adalah bekas lokasi gudang kopi.

Nama Braga sebagai nama jalan muncul pada 18 Juni 1882. Uniknya, nama itu diambil dari kelompok sandiwara tonil yang didirikan Asisten Residen Bandung Pieter Sijthoff. Sang asisten memberi nama kelompok tonilnya 'Braga'.

Karena untuk pemukiman orang Belanda, tidak heran jika bangunan-bangunan di sepanjang Braga aslinya bergaya arsitektur Oud Holland. Cirinya, bangunan induk memiliki gudang atau paviliun yang letaknya sejajar.

Wali Kota Bandung saat itu, B Coops berambisi menjadikan Braga sebagai komples pertokoan paling terkemuka di Hindia Belanda (Indonesia), De meest Europeesche winkel straat van Indie".

Pada zaman itu, Braga menjadi pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi kebutuhannya dari Braga. Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya sekadar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko sepanjang jalan Braga sehingga kemudian muncul istilahBragaderen.

Sampai kini, pamor Braga sebagai kawasan elit di Bandung tidak memudar. Kendati berbagai daerah-daerah satelit baru bermunculan. Bentuk asli Braga yang menggambarkan ciri kota Bandung terus dipertahankan. Pemilik bangunan di jalan itu tidak bisa leluasa mendapatkan ijin untuk merenovasi bentuk bangunannya.

Namun seiring perjalanan zaman, fungsi bangunan di kawasan Braga itu pun disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Selain toko buku dan restoran, kawasan Braga pun tumbuh sebagai kawasan bisnis. Di Jalan Braga kini ada Braga Citiwalk dengan hotel/apartemen di dalamnya.

Bila hari telah beranjak malam, kawasan Braga pun menjadi hingar bingar dengan dentuman music berbagai pub yang terdapat di sana. Jadi, untuk melengkapi kenikmatan menikmati keindahan arstitektur Braga pada siang hari, cobalah datang pada malam hari untuk melihat keindahan kehidupan malam di kota Bandung. [L1] (31-01-2008)

Sumber :

Abriansyah

http://www.inilah.com/berita/politik/2008/01/31/11193/braga-keindahan-arsitektur-bandung/

14 Agustus 2008

Sumber Gambar:

http://www.panoramio.com/photo/8081709

http://pub.mahawarman.net/bandoeng-jaman-doeloe/Bandung%20-%20Jalan%20Braga%20(Toko%20Luijks).jpg


Minggu, 10 Mei 2009

Bandung dan Permasalahannya


Konflik dalam Perencanaan Kota ( Tata ruang VS Tata Uang)

Salah satu persoalan mendasar yang penting untuk kita pahami, adalah adanya konflik atau benturan dalam perencanaan kota, sebagaimana dikatakan Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandung Tempo Doeloe.`Conflict of interest merupakan problem yang akan selalu dihadapi dalam penentuan kebijakan yang berkaitan dengan perancangan kota. Dalam proses perencanaan dan perancangan kota, selalu terlibat adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest) antara warga kota (masyarakat) di satu pihak, dengan para `pengangambi! keputusan " di lain pihak. Dalam hal ini para pengelola kota. " (Haryato Kunto; 9984: 324). Lebih jauh lagi, Kunto (ibid , ha1208) menambahkan :?Ada semacam obsesi membangun yang sering menghinggapi para pimpinan daerah, yang berpendapat bahwa ukuran kemajuan kota/daerah identik dengan lajunya pembangunan proyek proyek baru. "

Menurut John R Minnery (1985; 57-88) konflik dalam perencanaan kota dapat dikategorikan menjadi 4 kelompok sebagai berikut.
1. Konflik di balik perencanaan kota (Conflict over urban planning)
Dalam kategori ini ada 3 (tiga) hal yang melingkupi konflik perencanaan kota yakni konflik perencanan kota dalam konteks hubungan antar pribadi (the human dimension of conflict), konflik perencanaan kota dalam konteks proses sosial (the social context of urban planning) dan konflik perencanaan dalam konteks bangsa/negara (the nation-state context of urban planning)

2. Konflik di dalam perencanaan kota (Conflict in urban planning)
Konflik di dalam perencanaan kota berkaitan erat dengan elemen yang mendasari pentingnya perencanaan kota. Dalam hal ini konflik perencanaan kota berkaitan dengan ketersediaan sumber daya khususnya lahan perkotaaan. Selain itu, sumber daya juga menyangkut hal-hal yang sulit terukur (non tangibles) seperti informasi, lokasi dan hal-hal lain yang terkadang terlupakan.

3. Konflik atas perencanaan kota (Conflict of urban planning)
Konflik atas perencanaan kota berkaitan dengan metode, prosedur dan landasan - ­landasan sebagai pembenaran atas perencanaan kota. Dalam hal ini dapat diidentifikasi 2 hal yaitu metode dan desain yang digunakan serta konflik perencanaan kota sebagai konflik politik.

4. Konflik karena perencanaan kota (Conflict through urban planning)
Kategori ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi konflik yang tumbuh atau tercipta melalui aktivitas perencanaan kota itu sendiri atau disebabkan oleh proses perencanaan kota .

Kurangnya kesepakatan antar pelaku.

Dari hasil dikusi publik yang dilaksanakan di Walhi pada tanggal 25 Okotober 2005, Deny Zulkaidi seorang planer dari ITB yang juga merupakan konsultan, dikatakan bahwa, yang menjadi persoalan utama dalam pelaksanaan RTRW di Kota Bandung, adalah kurangnya pemahaman dan kurangnya kesepakatan seluruh pelaku pembangunan atas subtansi rencana tata ruang tersebut. Kurangnya pemahaman ini disebabkan memang rencana tata ruang ini masih berupa kebijakan (policy statement) yang belum dirinci kedalam peraturan pelaksanaan yang operasional (antara lain peraturan pembangunan atau zoning regulation, RDTRK/RTRK/RTBL. Meskipun secara politik kesepakatan ini telah ditunjukan dengan terbitnya Perda No. 2 Tahun 2004 tentang RTRW Kota Bandung, yang sekarang berubah menjadi Perda No. 3 Tahun 2006. Akan tetapi masih ada pihak-pihak yang berusaha mencari peluang untuk tidak mengikuti aturan/arahan penataan ruang didalamnya. Salah satu penyebab adalah kurangnya partisipatifnya proses penyusunan rencana tersebut, adanya konflik kepentingan yang tidak terselesaikan, atau adanya perubahan nilai dan kepentingan dari kesepakatan sebelumnya. Persoalan utama ini potensial menjadi penyebab terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan tata ruang.

Hal lain yang menjadi penyebab utama dari persoalan tersebut diatas adalah inkonsistensi pemerintah terhadap peraturan yang ada. Contoh kasus adalah dengan telah direvisinya Perda No. 2 Tahun 2004 tentang Tata Ruang yang baru berumur satu tahun. Ada inidikasi bahwa hal ini terjadi disebabkan oleh dorongan kepentingan pihak tertentu, yang memiliki motif ekonomi jangka pendek, sehingga mengabaikan kepentingan publik yang dalam hal ini masyarakat Bandung secara keseluruhan. Perubahan ini akan membawa dampak yang sangat besar bagi ekologi Kota Bandung. Perubahan pada peraturan, mengakibatkan adanya perubahan pada peta tata guna lahan. Dimana sebelumnya kawasan Punclut termasuk kawasan Lindung dan konservasi. Dengan telah direvisinya Perda No. 2 Tahun 2004, tentang RTRW, kawasan ini berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman berkepadatan rendah. Perubahan yag diusulkan oleh Pemerintah Kota ini, menunjukan inkonsistensi.

Akar masalah

Muara dari semua persoalan ini, adalah rendahnya kesadaran dan tanggungjawab pemerintah dan warga kota:

Konsep perencanaan RTRW Kota Bandung sampai dengan saat ini belum memiliki RDTRK, RTBL, yang tertuang dalam sebuah bentuk konsep yang terintegrasi dan komprehensip dengan mengedepankan, fungsi sosial, dan ekologi. (Master Plan)
Arogansi Kekuasaan dan Inkonsistensi pemerintah, dalam menegakan peraturan yang ada (Contohnya upaya pemerintah kota yang melakukan revisi Perda No. 2 Tahun 2004, tentang RTRW Kota Bandung). Kasus Hotel Planet, dan banyak lagi pelanggaran tata ruang yang dibiarkan begitu saja.
Lemahnya penegakan hukum
Rendahnya partisipasi dan peran serta masyarakat dalam perencanaan Tata Kota ( RTRW).
Rendahnya posisi tawar masyarakat secara politis, sehingga tidak mampu menjadi kekuatan sosial kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan.

DIPERLUKAN SIKAP KRITIS DARI MASYARAKAT SEBAGAI SOSIAL KONTROL.

Menyadari bahwa dalam upaya mempertahankan kedaulatan rakyat atas lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan semakin hari semakin berat. Pertama dihadapkan pada tantangan yang bersumber pada kokohnya dominasi dan penetrasi rezim kapitalisme global melalui agenda-agenda pasar bebas dan hegemoni paham liberalisme baru (neo-liberalism). Kedua, semakin menguatnya dukungan dan pemihakan kekuatan politik dominan di dalam negeri terhadap kepentingan negara-negara industri atau rejim ekonomi global. Rezim kapitalisme global menempatkan rakyat, lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat, bahkan bumi, sebagai tumbal akumulasi kapital.

Dominasi dan penetrasi tersebut telah memposisikan negara menjadi perpanjangan tangan kapitalisme global. Akibatnya kebijakan sosial ekonomi, politik pun diwarnai oleh semangat liberalisasi dan privatisasi yang memudahkan ekspansi modal dan globalisasi pasar. Watak kebijakan negara pada akhirnya membuka jalan bagi perampasan secara sistematis hak-hak sosial, ekonomi, politik, dan budaya rakyat.

Untuk merespon persoalan tersebut, diperlukan sikap kritis dari masyarakat sebagai kekuatan sosial kontrol, dan menjadikan persoalan lingkungan sebagai gerakan rakyat untuk melawan dominasi kekuatan kapital global dan kebijakan negara yang bertanggung jawab atas perampasan hak sosial, ekonomi, politik dan budaya rakyat yang terjadi ditingkat lokal, nasional dan internasional.

Permasalahan lingkungan hidup juga bukan masalah yang berdiri sendiri, dan harus dipandang sebagai masalah sosial yang kolektif. Oleh karenanya, masalah lingkungan hidup saat ini mau tidak mau, juga harus didudukan sebagai masalah sosial. Dalam konteks demikian, mau tidak mau, maka gerakan lingkungan harus mentransformasikan dirinya menjadi sebuah gerakan sosial. Artinya seluruh komponen masyarakat seperti buruh, petani, nelayan, guru, kaum profesional, pemuda, remaja, mahasiswa, Kelompok Pecinta Alam (KPA) , anak-anak dan kaum perempuan harus bersatu berjuang menghadapi ketidak adilan lingkungan hidup (environmental injustice). (1 Agustus 2008)

Sumber :
http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/08/myposting_14888.html
10 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://pusdiklatgeologi.files.wordpress.com/2009/02/cekunganbandung-12.jpg

Kawasan Wisata Belanja Baru Berkonsep Rekreasi Tempo Dulu


Setelah berjuang ulet dan membangun 12 factory outlet (FO) atau gerai belanja pakaian di Bandung dan Sentul, kini sang pelopor Perry Tristianto (44) meresmikan lahan wisata belanja seluas 8.000 m2 di kawasan Cihanjuang.

All About Strawberry, wilayah wisata belanja yang diciptakannya di Cihanjuang, Bandung, Jawa Barat, dan resmi dibuka untuk umum sejak Sabtu (18/9) lalu. Kawasan All About Strawberry bermula hanya sebagai tempat kediaman Perry dan keluarga, serta kolam ikan Koi koleksinya. Dia bermaksud memanfaatkan rumah tinggalnya yang terpencil, sambil meringankan ongkos pemeliharaan (maintenance) sehari-hari. ”Dulu pikir kalau saya tua nanti, saya mau membikin usaha di situ, tetapi belum keburu terwujud malah udah ketemu pikiran lain,” tutur Perry.

Kini, Perry mencoba membuat terobosan perpaduan konsep bermain di alam terbuka, belanja, makan dan jajan, sambil mengenang masa bocah di tengah kebun strawberry. Pilihan kreatif dan inovatif selalu diusung oleh alumnus Universitas Parahyangan, Bandung dan Administrasi Bisnis Stanford College, Singapura itu. Sebanyak 12 gerai belanja (fashion) telah dihadirkannya dengan nama The Big Price Cut, Rich & Famous, GalleryClothing, The Summit, Happening, Oasis, Emirates, Metropolis, China Emporium, The Ware House, LA Clothing, dan The Container.

Tujuannya pasti buat memperkuat Bandung sebagai kota tujuan wisata belanja. Bukan hanya janji kenyamanan, atau suasana nikmat lain yang muncul dari ide All About Strawberry. Lantaran Perry berambisi merangkul para penjual penganan tradisional yang dikumpulkan dalam konsep pasar. ”Ini diuntungkan lokasi All About Strawberry berada dekat dengan kebun sayur,” ucapnya saat berdialog dengan wartawan.
Selain itu ada janji untuk nanti memperbagus dan memperbaiki sarana jalan ke kawasan All About Strawberry. Ada jalanan tembus yang mempermudah orang Jakarta mampir melalui Cimahi, berjarak sekitar kurang dari tiga kilometer. Ada jalan lintas dari Padalarang melalui jalur tol Baros. Di samping itu ada arah masuk dari daerah Subang dan Lembang. Boleh dibilang, demikian Perry, All About Strawberry seperti awalnya (kawasan wisata) Kampung Daun saat pertama kali hadir.
”Akan tetapi jalan masuk ke kawasan ini lebih mudah. Cihanjuang kan jalur alternatif,” tambahnya. Begitupun area perparkiran bagi pengunjung telah mulai dipersiapkan.

”Konsepnya rekreasi tempo dulu,” sambung Perry. ”Saya yakin kawasan ini bisa jadi ramai, tetapi belum tentu untung,” lanjutnya pula.
Membangun wilayah FO di tengah kota memang mendukung pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat menuju kota metropolitan, akan tetapi suasana wisata belanja semacam itu tidak disukai oleh orang Jakarta. ”Mereka mencari wisata makan dan belanja yang jauh dari ciri kota Jakarta,” ujar pria berpenampilan sederhana, yang sebentar lagi bakal membuka FO spesial bagi bocah.

Kalau ditanya kenapa pilihan Perry malah tanaman buah strawberry, bukan anggur atau lainnya. Begini jawab ayah dua anak itu: ”Ini kan Indonesia, bisanya strawberry yang lebih mudah ditanam.” Lagi pula dua sistem penanaman seperti organik yang bermedia alam atau tanah dan rempah, serta nutrisi (hidrofonik) bisa diterapkan. Budidaya strawberry cocok untuk kawasan Cihanjuang yang berada pada 1.000 meter di atas permukaan laut.

Buat menuju keberhasilan sebagai daerah wisata belanja, menurut Perry, harus dipancing terlebih dulu dengan fasilitas-fasilitas baru selain wilayahnya yang beratmosfer sejuk serta nyaman.
”Think rest and fresh,” katanya bila menatap ke kawasan All About Strawberry. Di tengah lahan seluas 8.000 meter persegi, Perry menyediakan kebun strawberry dalam rumah kaca, warung tradisional makanan renyah, serta kafe bernuansa Eropa. Selain itu di All About Strawberry, pengunjung dapat menyalurkan kebiasaan berbelanja di Clothing and X’cessories Outlet (CX Outlet).
Arena bermain terbuka juga disuguhkan oleh Perry, sebutlah itu flying fox untuk anak serta orangtuanya, jembatan goyang di atas kolam, panjat tebing untuk anak, dan sejumlah jenis permainan lain.
Di sana dapat kita temukan Kampoeng Masa Kecil-Koe (Area I), yang selain ada perkebunan strawberry, juga permainan anak Low Rope Element yang berfungsi untuk melatih dan merangsang motorik kasar pada anak. Ada pula toko aksesori yang berbentuk ”rumah keju”.

Di Area II ada wilayah ”Impian Masa Kecil-Koe” yang mengajak kita untuk sejenak bermimpi ke dunia khayal. Suasana yang dibangun adalah bentuk permainan Adventure Game berupa Flying Fox, dikelilingi oleh rumah liliput atau Hobbit’s House, serta Gendalf House atau rumah topi dan rumah boneka yang bisa diubah fungsinya sebagai Camping Ground.
Konsep terbaru berbelanja untuk keluarga terdapat di Area III yang bertema Butik Rekreatif-Koe. Setelah itu bisa ditemukan ”Bla...Bla...Koe”, rumah koboi yang difungsikan untuk kafe Eropa dan dilengkapi kolam renang. Di situ sekaligus bisa dijadikan area permainan rakit, yang diselingi pertunjukan musik akustik pada akhir minggu.

Menurut dia, karya inovatif dan kreatif harus selalu dikedepankan untuk bisa bertahan di bisnis ritel ini, khususnya produk mode. ”Sekali saja kita tidak inovatif, maka gerai-gerai belanja seperti FO akan ditingggalkan oleh konsumen,” tandasnya.
Biaya keseluruhan yang dikeluarkan buat proyek All About Strawberry adalah senilai 1,2 miliar rupiah. ”Saya membawa petani strawberry yang diberikan lahan bertanam. Selain itu para petani di sekitar situ bisa menjual buah di All About Strawberry,” ujar lelaki yang juga berencana membuka kawasan FO seluas 1,6 hektar di Ciputat, Jakarta Selatan. Baginya, bisnis FO masih cerah asal membangunnya dengan ide-ide brilian. (SH/john js)

Sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0923/wis01.html
10 Mei 2009